Rabu, 20 April 2016

tafsir dan asbab al-nuzul ayat al-Qur'an tentang hukum mencari ilmu



Hukum Mencari Ilmu
Di dalam al-Qur’an kata ilmu itu sendiri diulang sebanyak 854 kali[1] dengan 82 macam[2]. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. ‘Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan.
Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalanan fungsi kekhalifahan. Menurut al-Qur’an pula, manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Ilmu banyak memberi manfaat bagi manusia, karena itu bayak bertebaran ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk menggali ilmu tersebut. berkali-kali pula al-Qur’an menunujukkan betapa tinggi kedudukan orang-orang yang berpengetahuan.[3]
Karena itu di sini saya mencoba menelaah ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai makna mengenai hukum dan pentingnya mencari ilmu. Dengan mencantumkan asbab al-Nuzul, disertakan pula penafsiran mufassir yang telah menafsirkan ayat yang akan dibahas ini, kemudian diurutkan berdasarkan ayat makiyyah madaniyyah.
Dari sekian ayat al-Qur’an yang membahas tentang ilmu, saya mengambil surah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yaitu Q.S. Al-‘Alaq 96: 1-5, kemudian surah an-Nahl 16:78 di mana Allah menunjukkan tata cara dan sarana mencari ilmu, surah Yunus 10: 101, surah ar-Rum 30: 6-7, surah Ali Imran 3: 195.
A.    Q.S. Al-‘Alaq 96: 1-5

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  ١ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ  ٢ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  ٣  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ  ٤ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 1 Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah 2 Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 3 Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam , 4 Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya 5.

1.      Asbab al-Nuzul
Disebutkan dalam hadis-hadis shahih, bahwa Nabi saw. mendatangi gua Hira’ untuk tujuan beribadah selama beberpa hari. Beliau kembali kepada istinya Siti Khadijah untuk mengambil bekal secukupnya. Hingga pada suatu hari di dalam gua beliau dikejutkan oleh kedatangan malaikat membawa wahyu Illahi. Malaikat berkata kepadanya, “Bacalah!” beliau menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk kedua kalinya malaikat memegang Nabi dan menekan-nekannya hingga Nabi kepayahan, dan setelah itu dilepaskan. Malaikat berkata lagi kepadanya, “Bacalah!” Nabi menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk ketiga kalinya malaikat memegang Nabi dan menekan-nekannya hingga beliau kepayahan. Setelah itu barulah Nabi mengatakan apa yang dikatakan oleh malaikat, yaitu surah al-‘Alaq ayat 1- 5.
Perawi hadis mengatakan, bahwa nabi saw. kembali kerumah khadijah dalam keadaan gemetar seraya berkata “selimutilah aku, selimutilah aku”, kemudian mereka menyemilmuti beliau hingga rasa takut beliau pun hilang. Lalu beliau berkata, “aku merasa khawatir terhadap diriku”. Khadijah menjawab, “jangan, bergembiralah! Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan membuatmu kecewa. Sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan silaturrahmi, bear dalam berkata, menanggung beban, gemar menyuguhi tamu dan gemar menolong oarang tertimpa bencan”.
Kemudian Khadijah mengajak beliau menemui Waraqh Ibn Naufal Ibn ‘Abdil ‘Uzza (anak paman Khadijah). Beliau adalah pemeluk agama Nasarani di zaman jahiliyah, pandai menulis Arab dan menguasai bahasa Ibrani, serta pernah menulis Injil dalam bahasa Arab dari bahasa aslinya, Ibrani.beliau seorang yang sudah lanjut usia, dan buta kedua matanya. Khadijah berkata kepadanya, “hai anak paman dengarkanlah apa yang dikatakan anak saudaramu ini”. Waraqah bertanya kepada Nabi saw. wahai anak saudaraku, apakah yang engkau saksikan?” kemudian Nabi saw. menceritakan apa yang dialami kepadanya. Waraqah berkata, “malaikat Namus (pakar ahli yang pandai) inilah ynag pernah datang kepada Nabi ‘Isa. Jika saja aku masih kuat, dan jika saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu”. Rasulullah saw. bertanya, “ya, tidak seorangpun datang dengan apa yang kau bawa , melainkan ia akan dimushi. Jika aku masih hidup di masa itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga”. Tetapi tidak lama kemudian ia wafat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahamd, Bukhari, dan Muslim.
Berdasarkan hadis yang lalu dapat disimpulakan bahwa permulaan surah ini merupakan awal ayat-ayat al-Qur’an diturunkan. Dan merupakan rahmat Allah pertama yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya, serta kitab pertama yang ditujakan kepada Nabi saw.
Akan halnya sisa surat ini diturunkan kemudian, yaitu setelah tersiarnya berita kerasulan Muhammad saw. dan setelah beliau mengajakkaum Quraisy kepada keimanan terhadap Allah. Sebagian mereka beriman kepadanya. Namun sebagian besar mereka merasa jengkel kepada mereka yang beriman sehingga tidak henti-hentinya menyakiti mereka. Mereka berupaya mengembalikan kaum mu’minin kepada keingkaran atas nabinya dan apa yang diturunkan kepada Tuhan kepadanya.[4]




2.      Kelompok kategori ayat
Ayat ini tergolong dalam ayat Makiyyah[5]
3.      Penafsiran, menurut al-Maraghi dalam kitab tafsir al-Maraghi[6]
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Jadilah engkau orang yang bisa membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu. Sebelum itu beliau tidak pandai membaca dan menulis. Kemudian datang perintah Ilahi agar beliau membaca, sekalipun tidak bisa menulis. Dan Allah telah menurunkan kitab kepadanya agar dibaca, sekalipun ia tidak bisa menulisnya.
Allah adalah Zat yang Menciptakan makhluk mampu membuatmu bisa membaca, sekalipun sebelum itu engkau tidak pernah belajar membaca.
Kemudian Allah menjelaskan proses kejadian makhluk yang dengan ilmu akan menguasai alam bumi dalam ayat kedua,
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Sesungguhnya Zat yang menciptakan manusia, sehingga menjadi makhluk-Nya yang paling mulia, ia menciptakan dari segumpal darah (‘Alaq). Keudian membekalinya dengan kemampuan menguasai alam bumi, dan dengan ilmu pengetahuannya bisa mengolah bumi serta menguasai apa yang ada padanya untuk kepentingan umat manusia. Oleh sebab itu Zat yang menciptakan manusia, mampu menjadikan manusia yang paling sempurna, yaitu Nabi saw. yang bisa membaca sekalipun beliau belum pernah belajar membaca sebelumnya.
Allah Zat Yang Menciptakan manusia dari segumpal darah, kemudian membekalinya dengan kemampuan berfikir, sehingga bisa menguasai seluruh makhluk bumi, mampu menjadikan Nabi Muhammad saw. bisa membaca. Sekalipun beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis sebelumnya.
اقْرَأْ
Kerjakan apa yang aku perintahkan, yaitu membaca.
Perintah ini diulag-ulang, sebab membaca tidak akan bisa meresap ke dalam jiwa, melainkan setelah berulang-ulang dan dibiasakan. Berulang-ulangnya perintah Illahi berpengertian sama dengan berulang-ulanganya membaca. Dengan demikian maa membaca itu merupakan bakat Nabi saw. hal ini sesuai dengan firman Allah SWT Q.S. Al-A’la 87:6
سَنُقْرِؤُكَ فَلَا تَنسَى
Keudian Allah menyingkirkan halangan yang dikemukakan oleh Muhammad saw. kepada Malaikat Jibril, yaitu tatkala malaikat berkata kepadanya, “Bacalah!” kemudian Rasulullah menjawab, “Saya tidak bisa membaca”. Yang artinya buta huruf. Kemudian Allah berfirman

وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
Tuhanmu maha pemurah bagi orang yang memohon pemberian-Nya. BagiNya amat mudah menganugerahkan kepandaian kepadamu berkat kemurahan-Nya. Setelah itu Allah menambahkan ketentraman bagi hati Nabi saw. setelah beliau mendapatkan bakat baru. melalui firman-Nya,
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Yang menjadikan pena bagi sarana berkomunikasi antar sesama manusia, sekalipun letaknya saling berjauhan. Dan ia tak ubahnya lisan yang bicara. Qalam atau pena adalah benda mati yang tidak bisa memberikan pengertian. Oleh sebab itu Allah menciptakan benda mati sebagai alat komunikasi. Sesungguhnya tidak ada kesulitan bagi-Nya menjadikan Nabi bisa membaca dan memberi penjelasan serta pengajaran. Apa lagi engkau adalah manusia yang sempurna.
Hendaklah seorang manusia merenungkan tentang ayat ini, bahwa kelak manusia akan menjumpai waktu di mana telah berpindah dari tingkatan yang paling rendah dan hina, kepada tingkatan yang paling mulia. Demikian itu tentu ada kekuatan yang mengaturnya dan kekuasaan yang menciptkan kesemuanya dengan baik.
Kemudian Allah menambahkan penjelasan-Nya dengan menyebutkan kalimat nikmat-nikmat-Nya kepada manusia melalui firman-Nya
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Sesungguhnya Zat yang memerintahkan rasul-Nya membaca Dia-lah yang Mengajarkan berbagai ilmu yang dinikmati oleh umat manusia, sehingga manusia berbeda dari makhluk lainnya. Pada mulanya manusia itu bodoh, ia tidak mengetahui apa-apa. Lalu apakah mengajari hambanya membaca dan berbagai ilmu selain membaca, sedangkan engkau memiliki bakat untuk menerimanya.
Dalam ayat ini terkandung bukti bahwa sungguh jika tidak ada qalam, maka anada tidak akan bisa memahami berbaga ilmu pengetahuan, tidak akan bisa menghitung jumlah pasukan tentara, semua agama kan hilang, manusia tidak akan mengetahui kadar pengetahuan manusia terdahulu, penemuan-penemuan dan kebudayaan mereka. Dan jika tidak ada qalam, maka sejarah orang-orang terdahulu tidak akan tercatat, baik yang menjadi tokohnya maupun yang menghiasinya. Dan ilmu pengetahuan mereka tidak bisa dijadikan penyuluh bagi generasi berikutnya. Dan dengan qalam bersandar kemajuan umat dan kreatifitasnya.
Dalam ayat ini juga terkandung pula bukti yang menunujukkan bahwa Allah yang menciptakan manusia dalam keadaan hidup dan berbicara dari sesuatu yang tidak ada tanda-tanda kehidupan padanya, tidak berbicara, serta tidak ada rupa dan bentuknya yang jelas, kemudian Allah mengajari manusia untuk yang paling utama, yaitu menulis dan menganugerahkannya ilmu pengetahuan sebelum itu ia tidak menetahui apa pun juga.


B.     Q.S. An-Nahl 16:78
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
1.      Mufradat
شَيْئاً
2.      Kelompok kategori ayat
Tergolong dalam ayat Makiyyah[7]
3.      Tafsir
Sayyid Qutb menafsirkan ayat ini bahwa tidaklah pantas jika manusia meninggikan dirinya hanya karena ilmu yang baru saja ia peroleh dan itupun dangkal. Bahkan para peneliti sekalipun mereka sama saja. Mereka dikeluarkan dari perut seorang ibu dalam keadaan tidak tahu apapun. Kemudian Allah memberinya ilmu yang sesuai dengan ukuran yang dikehendaki-Nya sebagai sebuah anugerah untuk mencukupi kebutuhan manusia dimuka bumi ini.[8]
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ
Dalam penafsiran al-Maragi, Allah menjadikan kalian mengetahui apa yang tidak kalian keyahui, setelah dia mengeluarkan kalian dari dalam perut ibu. Kemudian memberi kalian akal yang dnegan itu kalian dapat memahami dan membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antar petunjuk dengan kesesatan, dan antara yang salah dengan yang benar, menjadikan pendenganran bagi kalian yang dega itu kalian dapat mendengar suara-sura, sehingga sebagian kalian dapat memahami dari sebagian yang lain apa yang kalian perbincangkan, menjadi penglihatan, yang dengan itu kalian dapat melihat orang-orang, sehingga kalian dapat saling mengenal dan membedakan antara sebagian dengan sebagian yang lain, dan menjadikan perkara-perkara yang kalian butuhkan di dalam hidup ini, sehingga kalian dapat mengetahui jalan, lalu kalian menempuhnya untuk beusaha mencari rezki dan barang-barang, agar kalian dapat memilih yang baik dan buruk. Demikian halnya dengan segala aspek perlengkapan kehidupan.
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dengan harapan kalian dapat bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat-nikamta-Nya dalam tujuannya yang untuk itu ia diciptakan, dapat beribadah kepada-Nya, dan agar dengan setiap anggota tubuh kalian melaksankan ketaatan kepada-Nya.[9]

C.    Q.S. Yunus 10: 101
قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa'at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
1.      Mufradat
تُغْنِي = berguna dan bermanfaat

2.      Kelompok kategori ayat
Tergolong dalam kategori Makiyyah[10]
3.      Tafsir, 
Penafsiran al-Maragi
قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
Katakanlah hai Rasul, kepada orang yang sangat kau inginkan untuk mendapat petunjuk di antara kaummu: “lihatlah dengan mata kepala mata hatimu, apa yang ada di langit dan di bumi, berupa bimtang-bintang yang bersinar, baik bintang-bintang tetap atau bintang-bingtang berlayar, matahari dan rembulan, awan dan hujan, angin dan air, malam dan siang, serta masukkanya salah satu di antara keduanya pada yang lain, sehingga yang satu lebih panjang sedang yang lain lebih pendek. Perhatikan pula hujan yang Allah turunkan dari langit, yang dengan air hujan itu Allah menumbuhakan tanah yang telah mati, dan mengeluarkan dari tanah itu beraneka ragam buah-buahan, tanaman, bunga-bunga dan bermacam-macam tumbuhan. Perhatikan pula makhluk-makhluk Allah di bumi, yaitu berbagai macam binatang yang berlainan bentuk dan warna serta kegunaannya.
Juga gunung-gungung di bumi adann tanah-tanah datar yang sunyi senyap atau rame. Lalu, perhatikan pula apa yang Allah ciptakan di laut, berupa makhluk-mahkluk yang menakjubkan, sedang laut itu ditundukkan dan dihinakan bagi siapapun yang menempuhnya. Ia mengangkut kapal-kapal mereka dan menjalankannya dengan lemah lembut, dengan ditundukkan oleh Tuhan Yang Maha Berkuasa dan Maha Berilmu, yang tiada Tuhan selain Dia, tiada pemelihara selain Dia.

وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya ayat-ayat kauniyah (mukjizat) itu nyata dan menunjukkan kekuasaan Allah. Juga Rausl-rasul Alla, sekalipun hujjahnya sangat jitu, namun semua itu tidak memberi manfaat apa-apa kepada kaum yang tak bisa diharapkan  bakal beriman. Karena, mereka tidak mengerahkan pandangan mereka untuk mengambl pelajaran dari ayat- yaat tersebut dan tidak pula menggunakan ayat-ayat itu untuk mencari bukti atas keesaan Allah dan kekuasannya. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat tersebut. padahal, dengan memahami dan mengerti sunnatu ‘ilah pada makhluk maka jiwa seseorang akan menjadi bersih dan terlepas dari kotoran  dan dosa.[11]

D.    Q.S. Ali Imran 3: 190-191

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
1.      Penafsiran Sayyid Qutb dalam kitab tafsirnya fi zhilalil Qur’an
Dalam tafsirnya ini Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Ulul Albab adalah orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar. Mereka membuka pandangannya terhadap ayat-ayat Allah pada alam semesta, mereka tidak menutup matanya terhadap ayat ini. Mereka menghapad kepada Allah sambil duduk, berdiri dan berbaring. Maka terbukalah pandangan mereka, menjadi lembutlah pengetahuan mereka akan hakikat alam semesta yang dititpkan kepada mereka dan mengerti tujuan keberadaannya, alasan ditumbuhkannya, dan unsusr-unsur yang menegakkan fitrahnya dengan ilham yang menghubungkan antara hati manusia dan undang-undang alam ini.
Pemandangan berupa langit dan bumi dan berupa pergantian malam dan siang. Kalau perasaan kita dibebaskan dari kebekuan dan kejumudan, niscaya akan tergeraklah hati kita, akan berkembang perasaan kita, dan akan kita rasaakan bahwa dibalik kerapian dan keteraturannya pasti ada tangan yang mengaturnya, dibelakang pengaturnnya pasti ada akan yang merencanakannya, dan dibalik keteraturannya pasti ada undang-undang yang baku yang tidak akan pernah terganti. Semua itu tidak mungkin terjadi sera kebetulan, dan tidak mungkin terjadi secara batil.[12]


E.     Kesimpulan
Allah telah banyak memberi kita kenikamatan yang tidak bisa dihitung jumlahnya dari kita belum di dunia sampai lahir di dunia dan menggal semua atas kemurahan yang Allah beri. Termasuk ilmu, ilmu merupakan pusat dari segala kebahagiaan manusia yang terletak pada akal manusia yang fungsinya untuk membedakan anatar  baik dan buruk suatu yang akan dilakukan oleh manuia.
Allah sangat menjunjung tinggi ornag yang berilmu atau berakal hal ini disebutkan dalam surah  ali Imran. Kemudia Allah secara langsung menyuruh hambanya untuk menguak apa-apa yang dibumi dan di langit yang dijelaskan pada surah Yunus.
Jadi jelas di sini bahwa Allah sangat menagnjurkan umatnya untuk berilmu. Dan untuk mendapatkan ilmu itu ada dua macam yakni Ilmu laduni dan ilmu atas jerih payah kita mencarinya.
Allah menyuruh kita untuk mencari ilmu itu, Bahkan ayat pertama yang turunpun Allah sudah menyuruh hambanya untuk embaca, memabca, dan membaca.









[1] M. Quraisish Shihab, Tafsir al-Qur’an Tematik, hlm 571.
[2] Muhammad Fuad Abdul Baqi, “Mu’jam al-Mufahrash al-Lafdzi al-Qur’an al-Karim”, hlm 469-481.
[3] M. Quraisish Shihab, Tafsir al-Qur’an Tematik, 572.
[4]               Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 344-346.
[5]               Indra Laksana, Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”, (syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm 597.
[6]               Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 344-349.
[7]               Indra Laksana, Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”, (syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm 267.
[8] Tafsir fi Zilalil Qur’an VII, surah al-Hijr-al-Nahl PDF, hlm 200.
[9]               Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 211.
[10] Indra Laksana, Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”, (syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm 207.
[11] Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 11, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 305.
[12] Tafsir fi Zhilalil-Qur’an II PDF, Juz IV: Bagian akhir surah Ali Imran dan awal surah an-Nisa, hal 244-247

Tidak ada komentar:

Posting Komentar