Hukum Mencari Ilmu
Di dalam al-Qur’an kata ilmu itu sendiri diulang sebanyak 854 kali[1] dengan 82
macam[2]. Kata
ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. ‘Ilm
dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari
akar katanya mempunyai ciri kejelasan.
Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan
manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalanan fungsi kekhalifahan.
Menurut al-Qur’an pula, manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan
mengembangkannya dengan seizin Allah. Ilmu banyak memberi manfaat bagi manusia,
karena itu bayak bertebaran ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk menggali
ilmu tersebut. berkali-kali pula al-Qur’an menunujukkan betapa tinggi kedudukan
orang-orang yang berpengetahuan.[3]
Karena itu di sini saya mencoba menelaah ayat-ayat al-Qur’an yang
mempunyai makna mengenai hukum dan pentingnya mencari ilmu. Dengan mencantumkan
asbab al-Nuzul, disertakan pula penafsiran mufassir yang telah menafsirkan ayat
yang akan dibahas ini, kemudian diurutkan berdasarkan ayat makiyyah madaniyyah.
Dari sekian ayat al-Qur’an yang membahas tentang ilmu, saya
mengambil surah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yaitu Q.S.
Al-‘Alaq 96: 1-5, kemudian surah an-Nahl 16:78 di mana Allah menunjukkan tata
cara dan sarana mencari ilmu, surah Yunus 10: 101, surah ar-Rum 30: 6-7, surah Ali
Imran 3: 195.
A.
Q.S. Al-‘Alaq 96: 1-5
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ
الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ٢ اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ٣ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ٤ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan, 1 Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah 2 Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Maha Pemurah, 3 Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam , 4
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya 5.
1.
Asbab
al-Nuzul
Disebutkan
dalam hadis-hadis shahih, bahwa Nabi saw. mendatangi gua Hira’ untuk tujuan
beribadah selama beberpa hari. Beliau kembali kepada istinya Siti Khadijah
untuk mengambil bekal secukupnya. Hingga pada suatu hari di dalam gua beliau
dikejutkan oleh kedatangan malaikat membawa wahyu Illahi. Malaikat berkata
kepadanya, “Bacalah!” beliau menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Perawi
mengatakan, bahwa untuk kedua kalinya malaikat memegang Nabi dan
menekan-nekannya hingga Nabi kepayahan, dan setelah itu dilepaskan. Malaikat
berkata lagi kepadanya, “Bacalah!” Nabi menjawab, “saya tidak bisa membaca”.
Perawi mengatakan, bahwa untuk ketiga kalinya malaikat memegang Nabi dan
menekan-nekannya hingga beliau kepayahan. Setelah itu barulah Nabi mengatakan
apa yang dikatakan oleh malaikat, yaitu surah al-‘Alaq ayat 1- 5.
Perawi hadis
mengatakan, bahwa nabi saw. kembali kerumah khadijah dalam keadaan gemetar
seraya berkata “selimutilah aku, selimutilah aku”, kemudian mereka menyemilmuti
beliau hingga rasa takut beliau pun hilang. Lalu beliau berkata, “aku merasa
khawatir terhadap diriku”. Khadijah menjawab, “jangan, bergembiralah! Demi
Allah, sesungguhnya Allah tidak akan membuatmu kecewa. Sesungguhnya engkau
adalah orang yang menyambungkan silaturrahmi, bear dalam berkata, menanggung
beban, gemar menyuguhi tamu dan gemar menolong oarang tertimpa bencan”.
Kemudian
Khadijah mengajak beliau menemui Waraqh Ibn Naufal Ibn ‘Abdil ‘Uzza (anak paman
Khadijah). Beliau adalah pemeluk agama Nasarani di zaman jahiliyah, pandai
menulis Arab dan menguasai bahasa Ibrani, serta pernah menulis Injil dalam
bahasa Arab dari bahasa aslinya, Ibrani.beliau seorang yang sudah lanjut usia,
dan buta kedua matanya. Khadijah berkata kepadanya, “hai anak paman
dengarkanlah apa yang dikatakan anak saudaramu ini”. Waraqah bertanya kepada
Nabi saw. wahai anak saudaraku, apakah yang engkau saksikan?” kemudian Nabi
saw. menceritakan apa yang dialami kepadanya. Waraqah berkata, “malaikat Namus
(pakar ahli yang pandai) inilah ynag pernah datang kepada Nabi ‘Isa. Jika saja
aku masih kuat, dan jika saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu”.
Rasulullah saw. bertanya, “ya, tidak seorangpun datang dengan apa yang kau bawa
, melainkan ia akan dimushi. Jika aku masih hidup di masa itu, aku akan
menolongmu sekuat tenaga”. Tetapi tidak lama kemudian ia wafat. Hadis ini
diriwayatkan oleh Imam Ahamd, Bukhari, dan Muslim.
Berdasarkan
hadis yang lalu dapat disimpulakan bahwa permulaan surah ini merupakan awal
ayat-ayat al-Qur’an diturunkan. Dan merupakan rahmat Allah pertama yang
diturunkan kepada hamba-hamba-Nya, serta kitab pertama yang ditujakan kepada
Nabi saw.
Akan halnya
sisa surat ini diturunkan kemudian, yaitu setelah tersiarnya berita kerasulan
Muhammad saw. dan setelah beliau mengajakkaum Quraisy kepada keimanan terhadap
Allah. Sebagian mereka beriman kepadanya. Namun sebagian besar mereka merasa
jengkel kepada mereka yang beriman sehingga tidak henti-hentinya menyakiti
mereka. Mereka berupaya mengembalikan kaum mu’minin kepada keingkaran atas
nabinya dan apa yang diturunkan kepada Tuhan kepadanya.[4]
2.
Kelompok
kategori ayat
Ayat ini tergolong dalam ayat
Makiyyah[5]
3.
Penafsiran,
menurut al-Maraghi dalam kitab tafsir al-Maraghi[6]
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan,
Jadilah engkau orang yang bisa
membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu. Sebelum
itu beliau tidak pandai membaca dan menulis. Kemudian datang perintah Ilahi
agar beliau membaca, sekalipun tidak bisa menulis. Dan Allah telah menurunkan
kitab kepadanya agar dibaca, sekalipun ia tidak bisa menulisnya.
Allah adalah Zat yang Menciptakan
makhluk mampu membuatmu bisa membaca, sekalipun sebelum itu engkau tidak pernah
belajar membaca.
Kemudian Allah menjelaskan proses
kejadian makhluk yang dengan ilmu akan menguasai alam bumi dalam ayat kedua,
خَلَقَ
الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Sesungguhnya Zat yang menciptakan manusia, sehingga menjadi
makhluk-Nya yang paling mulia, ia menciptakan dari segumpal darah (‘Alaq).
Keudian membekalinya dengan kemampuan menguasai alam bumi, dan dengan ilmu
pengetahuannya bisa mengolah bumi serta menguasai apa yang ada padanya untuk
kepentingan umat manusia. Oleh sebab itu Zat yang menciptakan manusia, mampu
menjadikan manusia yang paling sempurna, yaitu Nabi saw. yang bisa membaca
sekalipun beliau belum pernah belajar membaca sebelumnya.
Allah Zat Yang Menciptakan manusia dari segumpal darah, kemudian
membekalinya dengan kemampuan berfikir, sehingga bisa menguasai seluruh makhluk
bumi, mampu menjadikan Nabi Muhammad saw. bisa membaca. Sekalipun beliau tidak
pernah belajar membaca dan menulis sebelumnya.
اقْرَأْ
Kerjakan apa yang aku perintahkan, yaitu membaca.
Perintah ini diulag-ulang, sebab membaca tidak akan bisa meresap ke
dalam jiwa, melainkan setelah berulang-ulang dan dibiasakan. Berulang-ulangnya
perintah Illahi berpengertian sama dengan berulang-ulanganya membaca. Dengan
demikian maa membaca itu merupakan bakat Nabi saw. hal ini sesuai dengan firman
Allah SWT Q.S. Al-A’la 87:6
سَنُقْرِؤُكَ فَلَا تَنسَى
Keudian Allah menyingkirkan halangan yang dikemukakan oleh Muhammad
saw. kepada Malaikat Jibril, yaitu tatkala malaikat berkata kepadanya,
“Bacalah!” kemudian Rasulullah menjawab, “Saya tidak bisa membaca”. Yang
artinya buta huruf. Kemudian Allah berfirman
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
Tuhanmu maha pemurah bagi orang yang memohon pemberian-Nya. BagiNya
amat mudah menganugerahkan kepandaian kepadamu berkat kemurahan-Nya. Setelah
itu Allah menambahkan ketentraman bagi hati Nabi saw. setelah beliau
mendapatkan bakat baru. melalui firman-Nya,
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Yang menjadikan pena bagi sarana berkomunikasi antar sesama
manusia, sekalipun letaknya saling berjauhan. Dan ia tak ubahnya lisan yang
bicara. Qalam atau pena adalah benda mati yang tidak bisa memberikan
pengertian. Oleh sebab itu Allah menciptakan benda mati sebagai alat
komunikasi. Sesungguhnya tidak ada kesulitan bagi-Nya menjadikan Nabi bisa
membaca dan memberi penjelasan serta pengajaran. Apa lagi engkau adalah manusia
yang sempurna.
Hendaklah seorang manusia merenungkan tentang ayat ini, bahwa kelak
manusia akan menjumpai waktu di mana telah berpindah dari tingkatan yang paling
rendah dan hina, kepada tingkatan yang paling mulia. Demikian itu tentu ada
kekuatan yang mengaturnya dan kekuasaan yang menciptkan kesemuanya dengan baik.
Kemudian Allah menambahkan penjelasan-Nya dengan menyebutkan
kalimat nikmat-nikmat-Nya kepada manusia melalui firman-Nya
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Sesungguhnya Zat yang memerintahkan rasul-Nya membaca Dia-lah yang
Mengajarkan berbagai ilmu yang dinikmati oleh umat manusia, sehingga manusia
berbeda dari makhluk lainnya. Pada mulanya manusia itu bodoh, ia tidak
mengetahui apa-apa. Lalu apakah mengajari hambanya membaca dan berbagai ilmu
selain membaca, sedangkan engkau memiliki bakat untuk menerimanya.
Dalam ayat ini terkandung bukti bahwa sungguh jika tidak ada qalam,
maka anada tidak akan bisa memahami berbaga ilmu pengetahuan, tidak akan bisa
menghitung jumlah pasukan tentara, semua agama kan hilang, manusia tidak akan
mengetahui kadar pengetahuan manusia terdahulu, penemuan-penemuan dan
kebudayaan mereka. Dan jika tidak ada qalam, maka sejarah orang-orang
terdahulu tidak akan tercatat, baik yang menjadi tokohnya maupun yang
menghiasinya. Dan ilmu pengetahuan mereka tidak bisa dijadikan penyuluh bagi
generasi berikutnya. Dan dengan qalam bersandar kemajuan umat dan
kreatifitasnya.
Dalam ayat ini juga terkandung pula bukti yang menunujukkan bahwa
Allah yang menciptakan manusia dalam keadaan hidup dan berbicara dari sesuatu
yang tidak ada tanda-tanda kehidupan padanya, tidak berbicara, serta tidak ada
rupa dan bentuknya yang jelas, kemudian Allah mengajari manusia untuk yang
paling utama, yaitu menulis dan menganugerahkannya ilmu pengetahuan sebelum itu
ia tidak menetahui apa pun juga.
B.
Q.S. An-Nahl 16:78
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ
أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ
وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur.
1.
Mufradat
شَيْئاً
2.
Kelompok
kategori ayat
Tergolong dalam ayat Makiyyah[7]
3.
Tafsir
Sayyid Qutb menafsirkan ayat ini bahwa tidaklah pantas jika manusia
meninggikan dirinya hanya karena ilmu yang baru saja ia peroleh dan itupun
dangkal. Bahkan para peneliti sekalipun mereka sama saja. Mereka dikeluarkan
dari perut seorang ibu dalam keadaan tidak tahu apapun. Kemudian Allah
memberinya ilmu yang sesuai dengan ukuran yang dikehendaki-Nya sebagai sebuah
anugerah untuk mencukupi kebutuhan manusia dimuka bumi ini.[8]
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ
Dalam penafsiran al-Maragi, Allah menjadikan kalian mengetahui apa
yang tidak kalian keyahui, setelah dia mengeluarkan kalian dari dalam perut
ibu. Kemudian memberi kalian akal yang dnegan itu kalian dapat memahami dan
membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antar petunjuk dengan kesesatan,
dan antara yang salah dengan yang benar, menjadikan pendenganran bagi kalian
yang dega itu kalian dapat mendengar suara-sura, sehingga sebagian kalian dapat
memahami dari sebagian yang lain apa yang kalian perbincangkan, menjadi
penglihatan, yang dengan itu kalian dapat melihat orang-orang, sehingga kalian
dapat saling mengenal dan membedakan antara sebagian dengan sebagian yang lain,
dan menjadikan perkara-perkara yang kalian butuhkan di dalam hidup ini,
sehingga kalian dapat mengetahui jalan, lalu kalian menempuhnya untuk beusaha
mencari rezki dan barang-barang, agar kalian dapat memilih yang baik dan buruk.
Demikian halnya dengan segala aspek perlengkapan kehidupan.
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dengan harapan kalian dapat bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan
nikmat-nikamta-Nya dalam tujuannya yang untuk itu ia diciptakan, dapat
beribadah kepada-Nya, dan agar dengan setiap anggota tubuh kalian melaksankan
ketaatan kepada-Nya.[9]
C.
Q.S. Yunus 10: 101
قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi.
Tidaklah bermanfa'at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi
peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
1.
Mufradat
تُغْنِي = berguna dan bermanfaat
2.
Kelompok
kategori ayat
Tergolong dalam kategori Makiyyah[10]
3.
Tafsir,
Penafsiran al-Maragi
قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
Katakanlah hai Rasul, kepada orang yang sangat kau inginkan untuk
mendapat petunjuk di antara kaummu: “lihatlah dengan mata kepala mata hatimu,
apa yang ada di langit dan di bumi, berupa bimtang-bintang yang bersinar, baik
bintang-bintang tetap atau bintang-bingtang berlayar, matahari dan rembulan,
awan dan hujan, angin dan air, malam dan siang, serta masukkanya salah satu di
antara keduanya pada yang lain, sehingga yang satu lebih panjang sedang yang
lain lebih pendek. Perhatikan pula hujan yang Allah turunkan dari langit, yang
dengan air hujan itu Allah menumbuhakan tanah yang telah mati, dan mengeluarkan
dari tanah itu beraneka ragam buah-buahan, tanaman, bunga-bunga dan
bermacam-macam tumbuhan. Perhatikan pula makhluk-makhluk Allah di bumi, yaitu
berbagai macam binatang yang berlainan bentuk dan warna serta kegunaannya.
Juga gunung-gungung di bumi adann tanah-tanah datar yang sunyi senyap
atau rame. Lalu, perhatikan pula apa yang Allah ciptakan di laut, berupa
makhluk-mahkluk yang menakjubkan, sedang laut itu ditundukkan dan dihinakan
bagi siapapun yang menempuhnya. Ia mengangkut kapal-kapal mereka dan
menjalankannya dengan lemah lembut, dengan ditundukkan oleh Tuhan Yang Maha
Berkuasa dan Maha Berilmu, yang tiada Tuhan selain Dia, tiada pemelihara selain
Dia.
وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya ayat-ayat kauniyah (mukjizat) itu nyata dan menunjukkan
kekuasaan Allah. Juga Rausl-rasul Alla, sekalipun hujjahnya sangat jitu, namun
semua itu tidak memberi manfaat apa-apa kepada kaum yang tak bisa
diharapkan bakal beriman. Karena, mereka
tidak mengerahkan pandangan mereka untuk mengambl pelajaran dari ayat- yaat
tersebut dan tidak pula menggunakan ayat-ayat itu untuk mencari bukti atas
keesaan Allah dan kekuasannya. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat tersebut.
padahal, dengan memahami dan mengerti sunnatu ‘ilah pada makhluk maka jiwa
seseorang akan menjadi bersih dan terlepas dari kotoran dan dosa.[11]
D.
Q.S. Ali Imran 3: 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ
وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ
جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا
خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
1.
Penafsiran
Sayyid Qutb dalam kitab tafsirnya fi zhilalil Qur’an
Dalam tafsirnya ini Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Ulul Albab adalah
orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar. Mereka membuka
pandangannya terhadap ayat-ayat Allah pada alam semesta, mereka tidak menutup
matanya terhadap ayat ini. Mereka menghapad kepada Allah sambil duduk, berdiri
dan berbaring. Maka terbukalah pandangan mereka, menjadi lembutlah pengetahuan
mereka akan hakikat alam semesta yang dititpkan kepada mereka dan mengerti
tujuan keberadaannya, alasan ditumbuhkannya, dan unsusr-unsur yang menegakkan
fitrahnya dengan ilham yang menghubungkan antara hati manusia dan undang-undang
alam ini.
Pemandangan berupa langit dan bumi dan berupa pergantian malam dan
siang. Kalau perasaan kita dibebaskan dari kebekuan dan kejumudan, niscaya akan
tergeraklah hati kita, akan berkembang perasaan kita, dan akan kita rasaakan
bahwa dibalik kerapian dan keteraturannya pasti ada tangan yang mengaturnya,
dibelakang pengaturnnya pasti ada akan yang merencanakannya, dan dibalik
keteraturannya pasti ada undang-undang yang baku yang tidak akan pernah
terganti. Semua itu tidak mungkin terjadi sera kebetulan, dan tidak mungkin
terjadi secara batil.[12]
E.
Kesimpulan
Allah telah banyak memberi kita
kenikamatan yang tidak bisa dihitung jumlahnya dari kita belum di dunia sampai
lahir di dunia dan menggal semua atas kemurahan yang Allah beri. Termasuk ilmu,
ilmu merupakan pusat dari segala kebahagiaan manusia yang terletak pada akal
manusia yang fungsinya untuk membedakan anatar
baik dan buruk suatu yang akan dilakukan oleh manuia.
Allah sangat menjunjung tinggi ornag
yang berilmu atau berakal hal ini disebutkan dalam surah ali Imran. Kemudia Allah secara langsung
menyuruh hambanya untuk menguak apa-apa yang dibumi dan di langit yang
dijelaskan pada surah Yunus.
Jadi jelas di sini bahwa Allah
sangat menagnjurkan umatnya untuk berilmu. Dan untuk mendapatkan ilmu itu ada
dua macam yakni Ilmu laduni dan ilmu atas jerih payah kita mencarinya.
Allah menyuruh kita untuk mencari
ilmu itu, Bahkan ayat pertama yang turunpun Allah sudah menyuruh hambanya untuk
embaca, memabca, dan membaca.
[1] M. Quraisish
Shihab, Tafsir al-Qur’an Tematik, hlm 571.
[2] Muhammad Fuad
Abdul Baqi, “Mu’jam al-Mufahrash al-Lafdzi al-Qur’an al-Karim”, hlm
469-481.
[3] M. Quraisish
Shihab, Tafsir al-Qur’an Tematik, 572.
[4] Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir
al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993),
hlm 344-346.
[5] Indra Laksana, Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an
dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”, (syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm
597.
[6] Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir
al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993),
hlm 344-349.
[7] Indra Laksana, Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an
dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”, (syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm
267.
[8] Tafsir fi
Zilalil Qur’an VII, surah al-Hijr-al-Nahl PDF, hlm 200.
[9] Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir
al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993),
hlm Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun
Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 211.
[10] Indra Laksana,
Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”,
(syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm 207.
[11] Ahmad Mustafa
al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 11, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha
Putra: Semarang, 1993), hlm 305.
[12] Tafsir fi Zhilalil-Qur’an
II PDF, Juz IV: Bagian akhir surah Ali Imran dan awal surah an-Nisa, hal
244-247
Tidak ada komentar:
Posting Komentar