Taat
dan Durhaka kepada Orang Tua
Perspektif
Sayyid Quthb dalam Kitab Tafsir Fii Dzilal al-Qur’an
Dalam
al-Qur’an itu sendiri, tuntutan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang
tua, disebutkan beberapa kali dalam ayat-Nya dan hadits Nabi SAW. Akan tetapi
sebaliknya, tuntutan seorang ibu atau bapak hanya sedikit disebutkan dalam
al-Qur’an. Sekalipun ada, ayat itu tergolong dalam peran penting seorang ibu
atau bapak terhadap anak (kasih sayang).
Banyak mufassir-mufassir yang mencoba menafsirkan ayat-ayat
tersebut dengan bidang-bidang yang sudah mereka kuasai dan tekuni, salah
satunya adalah Sayyid Quthb. Beliau merupakan seorang mufassir yang mengarang
kitab Tafsir fii Dzilal al-Qur’an. Dalam menyusun kitab tafsirnya beliau
mengelompokkan ayat-ayat yang setema dalam satu surat menjadi tema tertentu.
Di sini kami akan mencoba menjelaskan beberapa penafsiran
atas ayat-ayat tentang taat dan durhaka kepada orangtua oleh Sayyid Qutb dalam
kitab tafsirnya fii Dzilal al-Qur’an.
1.
Surat al-Ankabut 29: 8
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا
ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا
تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Dan kami wajibkan
kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak
mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya
kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.”
(Dan Kami perintahkan manusia berbuat
kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya) artinya perintah untuk berbuat baik,
antara lain berbakti kepada kedua ibu-bapak. (Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tentang hal itu kamu) yakni terhadap
perbuatan musyrik itu (tidak mempunyai pengetahuan) untuk menyetujui dan
menentangnya, dan hal itu tidak dapat dimengerti olehmu (maka janganlah kamu
mengikuti keduanya) dalam kemusyrikannya. (Hanya kepada-Ku-lah kembali kalian
lalu Aku kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan) maka Aku akan
membalasnya kepada kalian.
Allah
Swt mewajibkan manusia (anak) untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang
tuanya (Ibu Bapak) sebab kedua orang tua merupakan orang yang berjiwa besar
dari merawat dan membesarkan kita juga berani berkorban untuk si anak dan
keduanya memiliki keutamaan dan kasih sayang. Bila keduanya telah mamaksa
menyekutukan-Ku (Allah), maka janganlah kamu ragu untuk tidak taat sebab
taatanlah untuk tetap di atas ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Sebab Allah
Swt merupakan hubungan yang pertama, dan ikatan dengan Allah merupakan ikatan
yang paling kuat sekalipun dibandingkan dengan ikatan antara anak dan kedua
orang tuanya. Bahkan jika kedua orang tuanya musyrik keduanya masih berhak
mendapatkan kasih sayang dan perawatan karena bagaimana pun juga mereka
tetaplah orang tua kita. Namun disisi lain mereka bukanlah suatu ketaantan dan
panutan untuk anak-anaknya. Sebab mereka hanyalah sebagai kehidupan dunia, dan
seluruhnya akan kembali kepada Allah Swt.
2. Surah al-Luqman 31: 14-15
وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ
فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ
لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ
فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
(15)
Artinya :
“kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu”. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan
Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka
Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Dalam kalimat pertama, Allah memerintahkan seluruh
umat manusia agar bebuat baik terhadap ibu dan bapaknya. Karena, kedua orang
tua pasti mengorbankan segala yang mereka miliki hanya demi anak-anaknya.
Sekalipun itu sangat sulit dan mahal untuk di bayar, mereka tetap semangat,
gembira dan senang. Seolah-olah mereka berdualah yang menikmati hasil dari
jerih payahnya.
Kemudian dalam kalimat “ibunya telah mengandung
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”. Kalimat
ini menggambarkan penomena yang begitu besar. Seorang wanita harus mengandung
beban yang lebih berat dan lebih kompleks. Akan tetapi, dengan luar biasanya,
ia tetap menanggungnya dengan senang hati dan cinta yang lebih dalam.
Diriwayatkan oleh Hafidz Abu Bakar al-Bazzar dalam musnadnya dengan sanadnya
dari buraid dari ayahnya, bahwa seseorang sedang berada dalam barisan tawaf
menggendong ibunya untuk membawanya bertawaf. Kemudian ia bertanya kepada Nabi
Muhammad SAW. “Apakah aku telah menunaikan haknya ?” Rasulullah menjawab,
“Tidak, walaupun satu tarikan napas”. Dalam hadits ini menjelasakan, sekalipun
satu tarikan napas seorang ibu baik itu ketika mengandung atau kelahiran, tetap saja tidak bias dibalas oleh
seorang anak.
Dari penjabaran di atas, al-Qur’an mengarahkan agar
kita bersyukur kepada Allah, yang kemudian berterima kasih kepada kedua orang
tua. Dalam kalimatnya “bersyukurlah
kepada-Ku dan dua orang ibu bapakmu,….” . al-Qur’an telah menghubungkan hakikat ini
dengan hakikat akhirat, yang kalimatnya “hanya kepada-Kulah kembalimu”.
Ini bermakan, amal yang selam ini kita tabung (bersyukur) itu bermanfaat di
akhirat nanti.
Kemudian batasan seorang anak terhadap ibu dan
bapaknya, dalam aspek berbakti atau taat kepada kedua orang tua, itu berhenti
pada masalah aqidah. Sebagaimana lanjutan ayat-Nya tersebut. QS Luqman ayat 15
وَإِنْ
جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا
تُطِعْهُمَا.......اﱁ
Artinya
:
“Jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,…”
Dalam ayat ini dikatakan dengan jelas,
ketika orang tua mengenalkan dan mengajarkan kepada anaknya tentang kesyirikan,
maka jatuhlah kewajiban taat seorang anak. Karena hal ini berkaitan dengan
aqidah yang pada hakikatnya aqidah lebih diunggulkan atau diutamakan dari
segalanya. Akan tetapi, perkara ini tidak menggugurkan hak kedua orang tua
dalam bermuamalah dengan baik dan dalam memuliakan mereka. Dalam ayat-Nya :
وَصَاحِبْهُمَا
فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.....اﱁ
“pergaulilah keduanya di dunia dengan
baik…”. Ini menunjukan bahwa dunia itu tidak
kekal abadi, kemudian dilanjutkan dengan kalimat “dan ikutilah jalan orang
yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu. Maka kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
وَاتَّبِعْ
سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15)
Dalama kalimat ini, setelah berbuat
baik kepada orang tua, Allah juga menyuruh agar mengikuti orang-orang yang
beriman kepada-Nya, yang kemudian setiap amal baik ataupun buruk itu terdapat
suatu balasan yang diberikan oleh Allah.
3. Surat al-Ahqaf ayat 15, 16 dan 17
وَوَصَّيْنَا
الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ
كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ
وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ
الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً
تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ
الْمُسْلِمِينَ ١٥ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ
أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ
وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ
١٦ وَالَّذِي قَالَ
لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَّكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتْ
الْقُرُونُ مِن قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ
وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ ١٧
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ
مِن قَبْلِهِم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ ١٨
Artinya:
Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya,
ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah
(pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga
apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a:
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah
Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat
amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya
aku termasuk orang-orang yang berserah diri".15 Mereka itulah orang-orang yang Kami terima
dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni
kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang
benar yang telah dijanjikan kepada mereka.16
Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi
kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan
dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua
ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan:
"Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar".
Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu
belaka".17. Q.S. Al-Ahqaf 46:15-17
Pada ayat 15 di sini ditafsirkan bahwa
diperintahkannya menghormati dan berbuat baik kepada orang tua dikarenakan
orangtua telah susah payah membesarkan dan menumbuhkan kita hususnya ibu yang
sejak kita didalam rahimnya kita sudah sangat membebaninya, sampai saat
melahirkan, tidak berhenti sampai di situ saja setelah kita lahir sang ibu
masih menyusui dan merawat dan memberi kasih saying kepada kita tetapi ibu tidak pernah mengeluh dan merasa
bosan pada kita.
Kita tidak bisa membalas atau mengembalikann apa yang sudah
orangtua kita beri kepada kita. Seperti H.R. al-Bazaar yang artinya
Setelah
sesorang berthawaf sambal menggendong ibunya, dia menemui rasulullah seraya
bertnaya, “apakah akau telah menunaikan haknya?” Nabi saw menjawab, tidak!
Tidak membalas satu pun dari helaan nafasnya.
Anak
yang sudah berusia 40 tahun dianggep sudah dewasa dan berikut doa-doa anak yang
taat pada orangtua
Ya
Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikamat Engkau yang telah Engkau
berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku
Serta
supaya aku dapat bebuat amal yang saleh yang engkau ridha
Berilah
kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungghnya
aku bertobat kepada engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri.
Kemudian pada ayat 16 dijelaskan
bahwa Allah akan memberi balasan dengan memperhitungkan amal yang paling baik.
Dan aneka keburukan dimaafkan. Mereka kembali kesurga bersama para penghuninya
yang utama.
Ayat ke 17 menggambarkan anak yang
durhaka kepada orangtuanya. Orangtuanya beriman sedangkan anakanya durhaka dan
sangat ingkar hingga tidak berbuat baik kepada keduanya. Anak yang durhaka
berkata dengan keji, menusuk, kasar, dan melukai, seperti “cis bagi kamu
berdua”.
Hingga keorangtua memohon
pertolongan kepada Allah seraya berkata celaka kamu berimanlah, sedangkan si
anak tetap bercokol daalm kekafirannya dan berkutan dalam keingkarannya.
Kemudian balasan bagi anak yang durhaka dijelaskan
pada ayat 18 yakni mereka akan berkumpul dengan orang-orang terdahulu, mereka
dari kalangan jin dan malaikat kaum ini adalah kaum yang ingkar dan
mendustakan. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa tempat mereka berkumpul
adalah neraka.
4. Surat al-Isra’ ayat 23 dan 24
Dalam surat al-isra’,
Sayyid Quthb menafsirkan ayat 23-25 menjadi satu tema yaitu kewajiban berbakti
kepada orang tua.
وَقَضَى
رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا
يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ
وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
“Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan
"ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia.”
Pada ayat diatas diawali
dengan perintah untuk mengesakan Allah dalam beribadah dan juga larangan
berbuat syirik. Menurut Sayyid Quthb pejelasan tersebut merupakan prinsip dasar
aqidah yang selanjutnya menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban individu maupun
sosial. Sebuah ikatan yang pertama setelah ikatan aqidah adalah ikatan
keluarga. Atas dasar inilah, kemudian ayat tersebut menjelaskan tentang
berbakti kepada orang tua dengan pengabdian kepada Allah. Perintah berbakti
kepada orangtua merupakan bentuk keputusan dari Allah. Sehingga pesan ini harus
dianggap serius karena perintah ini datang secara tegas setelah perintah beribadah
kepada Allah.
Penyebutan usia lanjut
kedua orangtua merupakan gambaran kondisi yang rapuh atau lemah di masa tua.
Disaat kondisi yang renta dan lemah itulah orangtua perlu perlindungan. Dari
sinilah muncul sebuah larangan untuk tidak bersikap yang memunculkan kemarahan
dan kesedihan orang tua., apalagi menghina atau bersikap tidak hormat
kepadanya. Selanjutnya adalah perintah untuk mengucapkan ucapan yang baik yang
menunjukkan sikap hormat dan cinta.
وَاخْفِضْ
لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي
صَغِيراً
“Dan rendahkanlah
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku waktu kecil".
Yang dimaksud “rendahkanlah
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan”, menurut Sayyid
Quthb adalah rasa kasih sayang yang penuh kelembutan hingga sang anak merasa
hina dihadapan orang tuanya, dan ia tak mampu mangangkat pandangan atau menolak
perintah dihadapan keduanya. “sayap kerendahan” yang dimaksud adalah
sikap patuh kepada orangtua, merendah sebagai tanda tunduk.
Penjelasan selanjutnya
dari ayat diatas merupakan perintah untuk mendo’akan orangtua. Kelembutan dan
kasih sayang yang orangtua berikan kepada anaknya sewaktu masih kecil dan lemah
tidak mampu dibalas oleh sang anak. Oleh karena itu, kini ketika orang tua
sudah renta dan lemah, diperintahkan untuk berdo’a kepada Allah karena kasih
sayang Allah lebih luas dan perhatian serta perlindungan-Nya lebih besar.
Karena itu, Allah lebih mampu memberi balasan kepada orangtua atas segala
pengorbanan yang tak mungkin ditebus oleh sang anak.
Kesimpulan
Berdasarkan
penafsiran Sayyid Quthb tentang taat dan durhaka kepada orangtua dalam kitab
tafsirnya, sebagai berikut:
Sikap
taat kepada orang tua:
- Kesadaran
untuk mendo’akan orangtua
- Penuh rasa syukur baik kepada kedua Allah maupun
kedua orang tua
- Bersikap
baik kepada orangtua dengan menjaga perasaan kedua orangtua
- Menunjukkan
sikap hormat dan cinta kepada orangtua
- Menjaga
dan merawat orangtua
- Mematuhi
perintah orangtua
Sikap
durhaka kepada orangtua:
- Berkata
ataupun bersikap kasar kepada orangtua
- Berlaku
keji kepada orangtua
- Melukai
hati atau perasaan orangtua
- Membangkang
Balasan
atas sikap taat kepada orangtua adalah surga dan balasan bagi yang durhaka
kepada orangtua adalah neraka.