Rabu, 20 April 2016

beberapa ayat al-Qur'an mengenai taat dan durhaka kepada orang tua beserta penafsiran sayyid Qutb

Taat dan Durhaka kepada Orang Tua
Perspektif Sayyid Quthb dalam Kitab Tafsir Fii Dzilal al-Qur’an


Dalam al-Qur’an itu sendiri, tuntutan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tua, disebutkan beberapa kali dalam ayat-Nya dan hadits Nabi SAW. Akan tetapi sebaliknya, tuntutan seorang ibu atau bapak hanya sedikit disebutkan dalam al-Qur’an. Sekalipun ada, ayat itu tergolong dalam peran penting seorang ibu atau bapak terhadap anak (kasih sayang).
Banyak mufassir-mufassir yang mencoba menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan bidang-bidang yang sudah mereka kuasai dan tekuni, salah satunya adalah Sayyid Quthb. Beliau  merupakan seorang mufassir yang mengarang kitab Tafsir fii Dzilal al-Qur’an. Dalam menyusun kitab tafsirnya beliau mengelompokkan ayat-ayat yang setema dalam satu surat menjadi tema tertentu.
Di sini kami akan mencoba menjelaskan beberapa penafsiran atas ayat-ayat tentang taat dan durhaka kepada orangtua oleh Sayyid Qutb dalam kitab tafsirnya fii Dzilal al-Qur’an.

1.      Surat al-Ankabut 29: 8

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Dan kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(Dan Kami perintahkan manusia berbuat kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya) artinya perintah untuk berbuat baik, antara lain berbakti kepada kedua ibu-bapak. (Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tentang hal itu kamu) yakni terhadap perbuatan musyrik itu (tidak mempunyai pengetahuan) untuk menyetujui dan menentangnya, dan hal itu tidak dapat dimengerti olehmu (maka janganlah kamu mengikuti keduanya) dalam kemusyrikannya. (Hanya kepada-Ku-lah kembali kalian lalu Aku kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan) maka Aku akan membalasnya kepada kalian.
Allah Swt mewajibkan manusia (anak) untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tuanya (Ibu Bapak) sebab kedua orang tua merupakan orang yang berjiwa besar dari merawat dan membesarkan kita juga berani berkorban untuk si anak dan keduanya memiliki keutamaan dan kasih sayang. Bila keduanya telah mamaksa menyekutukan-Ku (Allah), maka janganlah kamu ragu untuk tidak taat sebab taatanlah untuk tetap di atas ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Sebab Allah Swt merupakan hubungan yang pertama, dan ikatan dengan Allah merupakan ikatan yang paling kuat sekalipun dibandingkan dengan ikatan antara anak dan kedua orang tuanya. Bahkan jika kedua orang tuanya musyrik keduanya masih berhak mendapatkan kasih sayang dan perawatan karena bagaimana pun juga mereka tetaplah orang tua kita. Namun disisi lain mereka bukanlah suatu ketaantan dan panutan untuk anak-anaknya. Sebab mereka hanyalah sebagai kehidupan dunia, dan seluruhnya akan kembali kepada Allah Swt.


2.      Surah al-Luqman 31: 14-15
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ  (15)
Artinya :
“kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.   Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Dalam kalimat pertama, Allah memerintahkan seluruh umat manusia agar bebuat baik terhadap ibu dan bapaknya. Karena, kedua orang tua pasti mengorbankan segala yang mereka miliki hanya demi anak-anaknya. Sekalipun itu sangat sulit dan mahal untuk di bayar, mereka tetap semangat, gembira dan senang. Seolah-olah mereka berdualah yang menikmati hasil dari jerih payahnya.
Kemudian dalam kalimat “ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”. Kalimat ini menggambarkan penomena yang begitu besar. Seorang wanita harus mengandung beban yang lebih berat dan lebih kompleks. Akan tetapi, dengan luar biasanya, ia tetap menanggungnya dengan senang hati dan cinta yang lebih dalam. Diriwayatkan oleh Hafidz Abu Bakar al-Bazzar dalam musnadnya dengan sanadnya dari buraid dari ayahnya, bahwa seseorang sedang berada dalam barisan tawaf menggendong ibunya untuk membawanya bertawaf. Kemudian ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Apakah aku telah menunaikan haknya ?” Rasulullah menjawab, “Tidak, walaupun satu tarikan napas”. Dalam hadits ini menjelasakan, sekalipun satu tarikan napas seorang ibu baik itu ketika mengandung atau  kelahiran, tetap saja tidak bias dibalas oleh seorang anak.
Dari penjabaran di atas, al-Qur’an mengarahkan agar kita bersyukur kepada Allah, yang kemudian berterima kasih kepada kedua orang tua. Dalam kalimatnya “bersyukurlah  kepada-Ku dan dua orang ibu bapakmu,….” .  al-Qur’an telah menghubungkan hakikat ini dengan hakikat akhirat, yang kalimatnya “hanya kepada-Kulah kembalimu”. Ini bermakan, amal yang selam ini kita tabung (bersyukur) itu bermanfaat di akhirat nanti.
Kemudian batasan seorang anak terhadap ibu dan bapaknya, dalam aspek berbakti atau taat kepada kedua orang tua, itu berhenti pada masalah aqidah. Sebagaimana lanjutan ayat-Nya tersebut. QS Luqman ayat 15
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا.......اﱁ
Artinya :
“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,…”
       Dalam ayat ini dikatakan dengan jelas, ketika orang tua mengenalkan dan mengajarkan kepada anaknya tentang kesyirikan, maka jatuhlah kewajiban taat seorang anak. Karena hal ini berkaitan dengan aqidah yang pada hakikatnya aqidah lebih diunggulkan atau diutamakan dari segalanya. Akan tetapi, perkara ini tidak menggugurkan hak kedua orang tua dalam bermuamalah dengan baik dan dalam memuliakan mereka. Dalam ayat-Nya :
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.....اﱁ
“pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…”. Ini menunjukan bahwa dunia itu tidak kekal abadi, kemudian dilanjutkan dengan kalimat “dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu. Maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15)
       Dalama kalimat ini, setelah berbuat baik kepada orang tua, Allah juga menyuruh agar mengikuti orang-orang yang beriman kepada-Nya, yang kemudian setiap amal baik ataupun buruk itu terdapat suatu balasan yang diberikan oleh Allah.

3.     Surat al-Ahqaf ayat 15, 16 dan 17
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ    ١٥   أُوْلَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ  ١٦    وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَّكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتْ الْقُرُونُ مِن قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ  ١٧  أُوْلَئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ ١٨
Artinya:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".15  Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.16  Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka".17. Q.S. Al-Ahqaf 46:15-17
Pada ayat 15 di sini ditafsirkan bahwa diperintahkannya menghormati dan berbuat baik kepada orang tua dikarenakan orangtua telah susah payah membesarkan dan menumbuhkan kita hususnya ibu yang sejak kita didalam rahimnya kita sudah sangat membebaninya, sampai saat melahirkan, tidak berhenti sampai di situ saja setelah kita lahir sang ibu masih menyusui dan merawat dan memberi kasih saying kepada kita  tetapi ibu tidak pernah mengeluh dan merasa bosan pada kita.
Kita tidak bisa membalas atau mengembalikann apa yang sudah orangtua kita beri kepada kita. Seperti H.R. al-Bazaar yang artinya
Setelah sesorang berthawaf sambal menggendong ibunya, dia menemui rasulullah seraya bertnaya, “apakah akau telah menunaikan haknya?” Nabi saw menjawab, tidak! Tidak membalas satu pun dari helaan nafasnya.
Anak yang sudah berusia 40 tahun dianggep sudah dewasa dan berikut doa-doa anak yang taat pada orangtua
Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikamat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku
Serta supaya aku dapat bebuat amal yang saleh yang engkau ridha
Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungghnya aku bertobat kepada engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
            Kemudian pada ayat 16 dijelaskan bahwa Allah akan memberi balasan dengan memperhitungkan amal yang paling baik. Dan aneka keburukan dimaafkan. Mereka kembali kesurga bersama para penghuninya yang utama.
            Ayat ke 17 menggambarkan anak yang durhaka kepada orangtuanya. Orangtuanya beriman sedangkan anakanya durhaka dan sangat ingkar hingga tidak berbuat baik kepada keduanya. Anak yang durhaka berkata dengan keji, menusuk, kasar, dan melukai, seperti “cis bagi kamu berdua”.
            Hingga keorangtua memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata celaka kamu berimanlah, sedangkan si anak tetap bercokol daalm kekafirannya dan berkutan dalam keingkarannya.
Kemudian balasan bagi anak yang durhaka dijelaskan pada ayat 18 yakni mereka akan berkumpul dengan orang-orang terdahulu, mereka dari kalangan jin dan malaikat kaum ini adalah kaum yang ingkar dan mendustakan. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa tempat mereka berkumpul adalah neraka.


4.      Surat al-Isra’ ayat 23 dan 24
Dalam surat al-isra’, Sayyid Quthb menafsirkan ayat 23-25 menjadi satu tema yaitu kewajiban berbakti kepada orang tua.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Pada ayat diatas diawali dengan perintah untuk mengesakan Allah dalam beribadah dan juga larangan berbuat syirik. Menurut Sayyid Quthb pejelasan tersebut merupakan prinsip dasar aqidah yang selanjutnya menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban individu maupun sosial. Sebuah ikatan yang pertama setelah ikatan aqidah adalah ikatan keluarga. Atas dasar inilah, kemudian ayat tersebut menjelaskan tentang berbakti kepada orang tua dengan pengabdian kepada Allah. Perintah berbakti kepada orangtua merupakan bentuk keputusan dari Allah. Sehingga pesan ini harus dianggap serius karena perintah ini datang secara tegas setelah perintah beribadah kepada Allah.
Penyebutan usia lanjut kedua orangtua merupakan gambaran kondisi yang rapuh atau lemah di masa tua. Disaat kondisi yang renta dan lemah itulah orangtua perlu perlindungan. Dari sinilah muncul sebuah larangan untuk tidak bersikap yang memunculkan kemarahan dan kesedihan orang tua., apalagi menghina atau bersikap tidak hormat kepadanya. Selanjutnya adalah perintah untuk mengucapkan ucapan yang baik yang menunjukkan sikap hormat dan cinta.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً 

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Yang dimaksud “rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan”, menurut Sayyid Quthb adalah rasa kasih sayang yang penuh kelembutan hingga sang anak merasa hina dihadapan orang tuanya, dan ia tak mampu mangangkat pandangan atau menolak perintah dihadapan keduanya. “sayap kerendahan” yang dimaksud adalah sikap patuh kepada orangtua, merendah sebagai tanda tunduk.
Penjelasan selanjutnya dari ayat diatas merupakan perintah untuk mendo’akan orangtua. Kelembutan dan kasih sayang yang orangtua berikan kepada anaknya sewaktu masih kecil dan lemah tidak mampu dibalas oleh sang anak. Oleh karena itu, kini ketika orang tua sudah renta dan lemah, diperintahkan untuk berdo’a kepada Allah karena kasih sayang Allah lebih luas dan perhatian serta perlindungan-Nya lebih besar. Karena itu, Allah lebih mampu memberi balasan kepada orangtua atas segala pengorbanan yang tak mungkin ditebus oleh sang anak.

Kesimpulan
            Berdasarkan penafsiran Sayyid Quthb tentang taat dan durhaka kepada orangtua dalam kitab tafsirnya, sebagai berikut:
Sikap taat kepada orang tua:
  1. Kesadaran untuk mendo’akan orangtua
  2. Penuh rasa syukur baik kepada kedua Allah maupun kedua orang tua
  3. Bersikap baik kepada orangtua dengan menjaga perasaan kedua orangtua
  4. Menunjukkan sikap hormat dan cinta kepada orangtua
  5. Menjaga dan merawat orangtua
  6. Mematuhi perintah orangtua
Sikap durhaka kepada orangtua:
  1. Berkata ataupun bersikap kasar kepada orangtua
  2. Berlaku keji kepada orangtua
  3. Melukai hati atau perasaan orangtua
  4. Membangkang
Balasan atas sikap taat kepada orangtua adalah surga dan balasan bagi yang durhaka kepada orangtua adalah neraka.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar