Rabu, 20 April 2016

beberapa ayat al-Qur'an mengenai taat dan durhaka kepada orang tua beserta penafsiran sayyid Qutb

Taat dan Durhaka kepada Orang Tua
Perspektif Sayyid Quthb dalam Kitab Tafsir Fii Dzilal al-Qur’an


Dalam al-Qur’an itu sendiri, tuntutan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tua, disebutkan beberapa kali dalam ayat-Nya dan hadits Nabi SAW. Akan tetapi sebaliknya, tuntutan seorang ibu atau bapak hanya sedikit disebutkan dalam al-Qur’an. Sekalipun ada, ayat itu tergolong dalam peran penting seorang ibu atau bapak terhadap anak (kasih sayang).
Banyak mufassir-mufassir yang mencoba menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan bidang-bidang yang sudah mereka kuasai dan tekuni, salah satunya adalah Sayyid Quthb. Beliau  merupakan seorang mufassir yang mengarang kitab Tafsir fii Dzilal al-Qur’an. Dalam menyusun kitab tafsirnya beliau mengelompokkan ayat-ayat yang setema dalam satu surat menjadi tema tertentu.
Di sini kami akan mencoba menjelaskan beberapa penafsiran atas ayat-ayat tentang taat dan durhaka kepada orangtua oleh Sayyid Qutb dalam kitab tafsirnya fii Dzilal al-Qur’an.

1.      Surat al-Ankabut 29: 8

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Dan kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(Dan Kami perintahkan manusia berbuat kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya) artinya perintah untuk berbuat baik, antara lain berbakti kepada kedua ibu-bapak. (Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tentang hal itu kamu) yakni terhadap perbuatan musyrik itu (tidak mempunyai pengetahuan) untuk menyetujui dan menentangnya, dan hal itu tidak dapat dimengerti olehmu (maka janganlah kamu mengikuti keduanya) dalam kemusyrikannya. (Hanya kepada-Ku-lah kembali kalian lalu Aku kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan) maka Aku akan membalasnya kepada kalian.
Allah Swt mewajibkan manusia (anak) untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tuanya (Ibu Bapak) sebab kedua orang tua merupakan orang yang berjiwa besar dari merawat dan membesarkan kita juga berani berkorban untuk si anak dan keduanya memiliki keutamaan dan kasih sayang. Bila keduanya telah mamaksa menyekutukan-Ku (Allah), maka janganlah kamu ragu untuk tidak taat sebab taatanlah untuk tetap di atas ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Sebab Allah Swt merupakan hubungan yang pertama, dan ikatan dengan Allah merupakan ikatan yang paling kuat sekalipun dibandingkan dengan ikatan antara anak dan kedua orang tuanya. Bahkan jika kedua orang tuanya musyrik keduanya masih berhak mendapatkan kasih sayang dan perawatan karena bagaimana pun juga mereka tetaplah orang tua kita. Namun disisi lain mereka bukanlah suatu ketaantan dan panutan untuk anak-anaknya. Sebab mereka hanyalah sebagai kehidupan dunia, dan seluruhnya akan kembali kepada Allah Swt.


2.      Surah al-Luqman 31: 14-15
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ  (15)
Artinya :
“kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.   Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Dalam kalimat pertama, Allah memerintahkan seluruh umat manusia agar bebuat baik terhadap ibu dan bapaknya. Karena, kedua orang tua pasti mengorbankan segala yang mereka miliki hanya demi anak-anaknya. Sekalipun itu sangat sulit dan mahal untuk di bayar, mereka tetap semangat, gembira dan senang. Seolah-olah mereka berdualah yang menikmati hasil dari jerih payahnya.
Kemudian dalam kalimat “ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”. Kalimat ini menggambarkan penomena yang begitu besar. Seorang wanita harus mengandung beban yang lebih berat dan lebih kompleks. Akan tetapi, dengan luar biasanya, ia tetap menanggungnya dengan senang hati dan cinta yang lebih dalam. Diriwayatkan oleh Hafidz Abu Bakar al-Bazzar dalam musnadnya dengan sanadnya dari buraid dari ayahnya, bahwa seseorang sedang berada dalam barisan tawaf menggendong ibunya untuk membawanya bertawaf. Kemudian ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Apakah aku telah menunaikan haknya ?” Rasulullah menjawab, “Tidak, walaupun satu tarikan napas”. Dalam hadits ini menjelasakan, sekalipun satu tarikan napas seorang ibu baik itu ketika mengandung atau  kelahiran, tetap saja tidak bias dibalas oleh seorang anak.
Dari penjabaran di atas, al-Qur’an mengarahkan agar kita bersyukur kepada Allah, yang kemudian berterima kasih kepada kedua orang tua. Dalam kalimatnya “bersyukurlah  kepada-Ku dan dua orang ibu bapakmu,….” .  al-Qur’an telah menghubungkan hakikat ini dengan hakikat akhirat, yang kalimatnya “hanya kepada-Kulah kembalimu”. Ini bermakan, amal yang selam ini kita tabung (bersyukur) itu bermanfaat di akhirat nanti.
Kemudian batasan seorang anak terhadap ibu dan bapaknya, dalam aspek berbakti atau taat kepada kedua orang tua, itu berhenti pada masalah aqidah. Sebagaimana lanjutan ayat-Nya tersebut. QS Luqman ayat 15
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا.......اﱁ
Artinya :
“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,…”
       Dalam ayat ini dikatakan dengan jelas, ketika orang tua mengenalkan dan mengajarkan kepada anaknya tentang kesyirikan, maka jatuhlah kewajiban taat seorang anak. Karena hal ini berkaitan dengan aqidah yang pada hakikatnya aqidah lebih diunggulkan atau diutamakan dari segalanya. Akan tetapi, perkara ini tidak menggugurkan hak kedua orang tua dalam bermuamalah dengan baik dan dalam memuliakan mereka. Dalam ayat-Nya :
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.....اﱁ
“pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…”. Ini menunjukan bahwa dunia itu tidak kekal abadi, kemudian dilanjutkan dengan kalimat “dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu. Maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15)
       Dalama kalimat ini, setelah berbuat baik kepada orang tua, Allah juga menyuruh agar mengikuti orang-orang yang beriman kepada-Nya, yang kemudian setiap amal baik ataupun buruk itu terdapat suatu balasan yang diberikan oleh Allah.

3.     Surat al-Ahqaf ayat 15, 16 dan 17
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ    ١٥   أُوْلَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ  ١٦    وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَّكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتْ الْقُرُونُ مِن قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ  ١٧  أُوْلَئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ ١٨
Artinya:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".15  Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.16  Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka".17. Q.S. Al-Ahqaf 46:15-17
Pada ayat 15 di sini ditafsirkan bahwa diperintahkannya menghormati dan berbuat baik kepada orang tua dikarenakan orangtua telah susah payah membesarkan dan menumbuhkan kita hususnya ibu yang sejak kita didalam rahimnya kita sudah sangat membebaninya, sampai saat melahirkan, tidak berhenti sampai di situ saja setelah kita lahir sang ibu masih menyusui dan merawat dan memberi kasih saying kepada kita  tetapi ibu tidak pernah mengeluh dan merasa bosan pada kita.
Kita tidak bisa membalas atau mengembalikann apa yang sudah orangtua kita beri kepada kita. Seperti H.R. al-Bazaar yang artinya
Setelah sesorang berthawaf sambal menggendong ibunya, dia menemui rasulullah seraya bertnaya, “apakah akau telah menunaikan haknya?” Nabi saw menjawab, tidak! Tidak membalas satu pun dari helaan nafasnya.
Anak yang sudah berusia 40 tahun dianggep sudah dewasa dan berikut doa-doa anak yang taat pada orangtua
Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikamat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku
Serta supaya aku dapat bebuat amal yang saleh yang engkau ridha
Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungghnya aku bertobat kepada engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
            Kemudian pada ayat 16 dijelaskan bahwa Allah akan memberi balasan dengan memperhitungkan amal yang paling baik. Dan aneka keburukan dimaafkan. Mereka kembali kesurga bersama para penghuninya yang utama.
            Ayat ke 17 menggambarkan anak yang durhaka kepada orangtuanya. Orangtuanya beriman sedangkan anakanya durhaka dan sangat ingkar hingga tidak berbuat baik kepada keduanya. Anak yang durhaka berkata dengan keji, menusuk, kasar, dan melukai, seperti “cis bagi kamu berdua”.
            Hingga keorangtua memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata celaka kamu berimanlah, sedangkan si anak tetap bercokol daalm kekafirannya dan berkutan dalam keingkarannya.
Kemudian balasan bagi anak yang durhaka dijelaskan pada ayat 18 yakni mereka akan berkumpul dengan orang-orang terdahulu, mereka dari kalangan jin dan malaikat kaum ini adalah kaum yang ingkar dan mendustakan. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa tempat mereka berkumpul adalah neraka.


4.      Surat al-Isra’ ayat 23 dan 24
Dalam surat al-isra’, Sayyid Quthb menafsirkan ayat 23-25 menjadi satu tema yaitu kewajiban berbakti kepada orang tua.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Pada ayat diatas diawali dengan perintah untuk mengesakan Allah dalam beribadah dan juga larangan berbuat syirik. Menurut Sayyid Quthb pejelasan tersebut merupakan prinsip dasar aqidah yang selanjutnya menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban individu maupun sosial. Sebuah ikatan yang pertama setelah ikatan aqidah adalah ikatan keluarga. Atas dasar inilah, kemudian ayat tersebut menjelaskan tentang berbakti kepada orang tua dengan pengabdian kepada Allah. Perintah berbakti kepada orangtua merupakan bentuk keputusan dari Allah. Sehingga pesan ini harus dianggap serius karena perintah ini datang secara tegas setelah perintah beribadah kepada Allah.
Penyebutan usia lanjut kedua orangtua merupakan gambaran kondisi yang rapuh atau lemah di masa tua. Disaat kondisi yang renta dan lemah itulah orangtua perlu perlindungan. Dari sinilah muncul sebuah larangan untuk tidak bersikap yang memunculkan kemarahan dan kesedihan orang tua., apalagi menghina atau bersikap tidak hormat kepadanya. Selanjutnya adalah perintah untuk mengucapkan ucapan yang baik yang menunjukkan sikap hormat dan cinta.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً 

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Yang dimaksud “rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan”, menurut Sayyid Quthb adalah rasa kasih sayang yang penuh kelembutan hingga sang anak merasa hina dihadapan orang tuanya, dan ia tak mampu mangangkat pandangan atau menolak perintah dihadapan keduanya. “sayap kerendahan” yang dimaksud adalah sikap patuh kepada orangtua, merendah sebagai tanda tunduk.
Penjelasan selanjutnya dari ayat diatas merupakan perintah untuk mendo’akan orangtua. Kelembutan dan kasih sayang yang orangtua berikan kepada anaknya sewaktu masih kecil dan lemah tidak mampu dibalas oleh sang anak. Oleh karena itu, kini ketika orang tua sudah renta dan lemah, diperintahkan untuk berdo’a kepada Allah karena kasih sayang Allah lebih luas dan perhatian serta perlindungan-Nya lebih besar. Karena itu, Allah lebih mampu memberi balasan kepada orangtua atas segala pengorbanan yang tak mungkin ditebus oleh sang anak.

Kesimpulan
            Berdasarkan penafsiran Sayyid Quthb tentang taat dan durhaka kepada orangtua dalam kitab tafsirnya, sebagai berikut:
Sikap taat kepada orang tua:
  1. Kesadaran untuk mendo’akan orangtua
  2. Penuh rasa syukur baik kepada kedua Allah maupun kedua orang tua
  3. Bersikap baik kepada orangtua dengan menjaga perasaan kedua orangtua
  4. Menunjukkan sikap hormat dan cinta kepada orangtua
  5. Menjaga dan merawat orangtua
  6. Mematuhi perintah orangtua
Sikap durhaka kepada orangtua:
  1. Berkata ataupun bersikap kasar kepada orangtua
  2. Berlaku keji kepada orangtua
  3. Melukai hati atau perasaan orangtua
  4. Membangkang
Balasan atas sikap taat kepada orangtua adalah surga dan balasan bagi yang durhaka kepada orangtua adalah neraka.

            

tafsir dan asbab al-nuzul ayat al-Qur'an tentang hukum mencari ilmu



Hukum Mencari Ilmu
Di dalam al-Qur’an kata ilmu itu sendiri diulang sebanyak 854 kali[1] dengan 82 macam[2]. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. ‘Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan.
Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalanan fungsi kekhalifahan. Menurut al-Qur’an pula, manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Ilmu banyak memberi manfaat bagi manusia, karena itu bayak bertebaran ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk menggali ilmu tersebut. berkali-kali pula al-Qur’an menunujukkan betapa tinggi kedudukan orang-orang yang berpengetahuan.[3]
Karena itu di sini saya mencoba menelaah ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai makna mengenai hukum dan pentingnya mencari ilmu. Dengan mencantumkan asbab al-Nuzul, disertakan pula penafsiran mufassir yang telah menafsirkan ayat yang akan dibahas ini, kemudian diurutkan berdasarkan ayat makiyyah madaniyyah.
Dari sekian ayat al-Qur’an yang membahas tentang ilmu, saya mengambil surah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yaitu Q.S. Al-‘Alaq 96: 1-5, kemudian surah an-Nahl 16:78 di mana Allah menunjukkan tata cara dan sarana mencari ilmu, surah Yunus 10: 101, surah ar-Rum 30: 6-7, surah Ali Imran 3: 195.
A.    Q.S. Al-‘Alaq 96: 1-5

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  ١ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ  ٢ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  ٣  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ  ٤ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 1 Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah 2 Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 3 Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam , 4 Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya 5.

1.      Asbab al-Nuzul
Disebutkan dalam hadis-hadis shahih, bahwa Nabi saw. mendatangi gua Hira’ untuk tujuan beribadah selama beberpa hari. Beliau kembali kepada istinya Siti Khadijah untuk mengambil bekal secukupnya. Hingga pada suatu hari di dalam gua beliau dikejutkan oleh kedatangan malaikat membawa wahyu Illahi. Malaikat berkata kepadanya, “Bacalah!” beliau menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk kedua kalinya malaikat memegang Nabi dan menekan-nekannya hingga Nabi kepayahan, dan setelah itu dilepaskan. Malaikat berkata lagi kepadanya, “Bacalah!” Nabi menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk ketiga kalinya malaikat memegang Nabi dan menekan-nekannya hingga beliau kepayahan. Setelah itu barulah Nabi mengatakan apa yang dikatakan oleh malaikat, yaitu surah al-‘Alaq ayat 1- 5.
Perawi hadis mengatakan, bahwa nabi saw. kembali kerumah khadijah dalam keadaan gemetar seraya berkata “selimutilah aku, selimutilah aku”, kemudian mereka menyemilmuti beliau hingga rasa takut beliau pun hilang. Lalu beliau berkata, “aku merasa khawatir terhadap diriku”. Khadijah menjawab, “jangan, bergembiralah! Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan membuatmu kecewa. Sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan silaturrahmi, bear dalam berkata, menanggung beban, gemar menyuguhi tamu dan gemar menolong oarang tertimpa bencan”.
Kemudian Khadijah mengajak beliau menemui Waraqh Ibn Naufal Ibn ‘Abdil ‘Uzza (anak paman Khadijah). Beliau adalah pemeluk agama Nasarani di zaman jahiliyah, pandai menulis Arab dan menguasai bahasa Ibrani, serta pernah menulis Injil dalam bahasa Arab dari bahasa aslinya, Ibrani.beliau seorang yang sudah lanjut usia, dan buta kedua matanya. Khadijah berkata kepadanya, “hai anak paman dengarkanlah apa yang dikatakan anak saudaramu ini”. Waraqah bertanya kepada Nabi saw. wahai anak saudaraku, apakah yang engkau saksikan?” kemudian Nabi saw. menceritakan apa yang dialami kepadanya. Waraqah berkata, “malaikat Namus (pakar ahli yang pandai) inilah ynag pernah datang kepada Nabi ‘Isa. Jika saja aku masih kuat, dan jika saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu”. Rasulullah saw. bertanya, “ya, tidak seorangpun datang dengan apa yang kau bawa , melainkan ia akan dimushi. Jika aku masih hidup di masa itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga”. Tetapi tidak lama kemudian ia wafat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahamd, Bukhari, dan Muslim.
Berdasarkan hadis yang lalu dapat disimpulakan bahwa permulaan surah ini merupakan awal ayat-ayat al-Qur’an diturunkan. Dan merupakan rahmat Allah pertama yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya, serta kitab pertama yang ditujakan kepada Nabi saw.
Akan halnya sisa surat ini diturunkan kemudian, yaitu setelah tersiarnya berita kerasulan Muhammad saw. dan setelah beliau mengajakkaum Quraisy kepada keimanan terhadap Allah. Sebagian mereka beriman kepadanya. Namun sebagian besar mereka merasa jengkel kepada mereka yang beriman sehingga tidak henti-hentinya menyakiti mereka. Mereka berupaya mengembalikan kaum mu’minin kepada keingkaran atas nabinya dan apa yang diturunkan kepada Tuhan kepadanya.[4]




2.      Kelompok kategori ayat
Ayat ini tergolong dalam ayat Makiyyah[5]
3.      Penafsiran, menurut al-Maraghi dalam kitab tafsir al-Maraghi[6]
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Jadilah engkau orang yang bisa membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu. Sebelum itu beliau tidak pandai membaca dan menulis. Kemudian datang perintah Ilahi agar beliau membaca, sekalipun tidak bisa menulis. Dan Allah telah menurunkan kitab kepadanya agar dibaca, sekalipun ia tidak bisa menulisnya.
Allah adalah Zat yang Menciptakan makhluk mampu membuatmu bisa membaca, sekalipun sebelum itu engkau tidak pernah belajar membaca.
Kemudian Allah menjelaskan proses kejadian makhluk yang dengan ilmu akan menguasai alam bumi dalam ayat kedua,
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Sesungguhnya Zat yang menciptakan manusia, sehingga menjadi makhluk-Nya yang paling mulia, ia menciptakan dari segumpal darah (‘Alaq). Keudian membekalinya dengan kemampuan menguasai alam bumi, dan dengan ilmu pengetahuannya bisa mengolah bumi serta menguasai apa yang ada padanya untuk kepentingan umat manusia. Oleh sebab itu Zat yang menciptakan manusia, mampu menjadikan manusia yang paling sempurna, yaitu Nabi saw. yang bisa membaca sekalipun beliau belum pernah belajar membaca sebelumnya.
Allah Zat Yang Menciptakan manusia dari segumpal darah, kemudian membekalinya dengan kemampuan berfikir, sehingga bisa menguasai seluruh makhluk bumi, mampu menjadikan Nabi Muhammad saw. bisa membaca. Sekalipun beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis sebelumnya.
اقْرَأْ
Kerjakan apa yang aku perintahkan, yaitu membaca.
Perintah ini diulag-ulang, sebab membaca tidak akan bisa meresap ke dalam jiwa, melainkan setelah berulang-ulang dan dibiasakan. Berulang-ulangnya perintah Illahi berpengertian sama dengan berulang-ulanganya membaca. Dengan demikian maa membaca itu merupakan bakat Nabi saw. hal ini sesuai dengan firman Allah SWT Q.S. Al-A’la 87:6
سَنُقْرِؤُكَ فَلَا تَنسَى
Keudian Allah menyingkirkan halangan yang dikemukakan oleh Muhammad saw. kepada Malaikat Jibril, yaitu tatkala malaikat berkata kepadanya, “Bacalah!” kemudian Rasulullah menjawab, “Saya tidak bisa membaca”. Yang artinya buta huruf. Kemudian Allah berfirman

وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
Tuhanmu maha pemurah bagi orang yang memohon pemberian-Nya. BagiNya amat mudah menganugerahkan kepandaian kepadamu berkat kemurahan-Nya. Setelah itu Allah menambahkan ketentraman bagi hati Nabi saw. setelah beliau mendapatkan bakat baru. melalui firman-Nya,
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Yang menjadikan pena bagi sarana berkomunikasi antar sesama manusia, sekalipun letaknya saling berjauhan. Dan ia tak ubahnya lisan yang bicara. Qalam atau pena adalah benda mati yang tidak bisa memberikan pengertian. Oleh sebab itu Allah menciptakan benda mati sebagai alat komunikasi. Sesungguhnya tidak ada kesulitan bagi-Nya menjadikan Nabi bisa membaca dan memberi penjelasan serta pengajaran. Apa lagi engkau adalah manusia yang sempurna.
Hendaklah seorang manusia merenungkan tentang ayat ini, bahwa kelak manusia akan menjumpai waktu di mana telah berpindah dari tingkatan yang paling rendah dan hina, kepada tingkatan yang paling mulia. Demikian itu tentu ada kekuatan yang mengaturnya dan kekuasaan yang menciptkan kesemuanya dengan baik.
Kemudian Allah menambahkan penjelasan-Nya dengan menyebutkan kalimat nikmat-nikmat-Nya kepada manusia melalui firman-Nya
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Sesungguhnya Zat yang memerintahkan rasul-Nya membaca Dia-lah yang Mengajarkan berbagai ilmu yang dinikmati oleh umat manusia, sehingga manusia berbeda dari makhluk lainnya. Pada mulanya manusia itu bodoh, ia tidak mengetahui apa-apa. Lalu apakah mengajari hambanya membaca dan berbagai ilmu selain membaca, sedangkan engkau memiliki bakat untuk menerimanya.
Dalam ayat ini terkandung bukti bahwa sungguh jika tidak ada qalam, maka anada tidak akan bisa memahami berbaga ilmu pengetahuan, tidak akan bisa menghitung jumlah pasukan tentara, semua agama kan hilang, manusia tidak akan mengetahui kadar pengetahuan manusia terdahulu, penemuan-penemuan dan kebudayaan mereka. Dan jika tidak ada qalam, maka sejarah orang-orang terdahulu tidak akan tercatat, baik yang menjadi tokohnya maupun yang menghiasinya. Dan ilmu pengetahuan mereka tidak bisa dijadikan penyuluh bagi generasi berikutnya. Dan dengan qalam bersandar kemajuan umat dan kreatifitasnya.
Dalam ayat ini juga terkandung pula bukti yang menunujukkan bahwa Allah yang menciptakan manusia dalam keadaan hidup dan berbicara dari sesuatu yang tidak ada tanda-tanda kehidupan padanya, tidak berbicara, serta tidak ada rupa dan bentuknya yang jelas, kemudian Allah mengajari manusia untuk yang paling utama, yaitu menulis dan menganugerahkannya ilmu pengetahuan sebelum itu ia tidak menetahui apa pun juga.


B.     Q.S. An-Nahl 16:78
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
1.      Mufradat
شَيْئاً
2.      Kelompok kategori ayat
Tergolong dalam ayat Makiyyah[7]
3.      Tafsir
Sayyid Qutb menafsirkan ayat ini bahwa tidaklah pantas jika manusia meninggikan dirinya hanya karena ilmu yang baru saja ia peroleh dan itupun dangkal. Bahkan para peneliti sekalipun mereka sama saja. Mereka dikeluarkan dari perut seorang ibu dalam keadaan tidak tahu apapun. Kemudian Allah memberinya ilmu yang sesuai dengan ukuran yang dikehendaki-Nya sebagai sebuah anugerah untuk mencukupi kebutuhan manusia dimuka bumi ini.[8]
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ
Dalam penafsiran al-Maragi, Allah menjadikan kalian mengetahui apa yang tidak kalian keyahui, setelah dia mengeluarkan kalian dari dalam perut ibu. Kemudian memberi kalian akal yang dnegan itu kalian dapat memahami dan membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antar petunjuk dengan kesesatan, dan antara yang salah dengan yang benar, menjadikan pendenganran bagi kalian yang dega itu kalian dapat mendengar suara-sura, sehingga sebagian kalian dapat memahami dari sebagian yang lain apa yang kalian perbincangkan, menjadi penglihatan, yang dengan itu kalian dapat melihat orang-orang, sehingga kalian dapat saling mengenal dan membedakan antara sebagian dengan sebagian yang lain, dan menjadikan perkara-perkara yang kalian butuhkan di dalam hidup ini, sehingga kalian dapat mengetahui jalan, lalu kalian menempuhnya untuk beusaha mencari rezki dan barang-barang, agar kalian dapat memilih yang baik dan buruk. Demikian halnya dengan segala aspek perlengkapan kehidupan.
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dengan harapan kalian dapat bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat-nikamta-Nya dalam tujuannya yang untuk itu ia diciptakan, dapat beribadah kepada-Nya, dan agar dengan setiap anggota tubuh kalian melaksankan ketaatan kepada-Nya.[9]

C.    Q.S. Yunus 10: 101
قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa'at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
1.      Mufradat
تُغْنِي = berguna dan bermanfaat

2.      Kelompok kategori ayat
Tergolong dalam kategori Makiyyah[10]
3.      Tafsir, 
Penafsiran al-Maragi
قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
Katakanlah hai Rasul, kepada orang yang sangat kau inginkan untuk mendapat petunjuk di antara kaummu: “lihatlah dengan mata kepala mata hatimu, apa yang ada di langit dan di bumi, berupa bimtang-bintang yang bersinar, baik bintang-bintang tetap atau bintang-bingtang berlayar, matahari dan rembulan, awan dan hujan, angin dan air, malam dan siang, serta masukkanya salah satu di antara keduanya pada yang lain, sehingga yang satu lebih panjang sedang yang lain lebih pendek. Perhatikan pula hujan yang Allah turunkan dari langit, yang dengan air hujan itu Allah menumbuhakan tanah yang telah mati, dan mengeluarkan dari tanah itu beraneka ragam buah-buahan, tanaman, bunga-bunga dan bermacam-macam tumbuhan. Perhatikan pula makhluk-makhluk Allah di bumi, yaitu berbagai macam binatang yang berlainan bentuk dan warna serta kegunaannya.
Juga gunung-gungung di bumi adann tanah-tanah datar yang sunyi senyap atau rame. Lalu, perhatikan pula apa yang Allah ciptakan di laut, berupa makhluk-mahkluk yang menakjubkan, sedang laut itu ditundukkan dan dihinakan bagi siapapun yang menempuhnya. Ia mengangkut kapal-kapal mereka dan menjalankannya dengan lemah lembut, dengan ditundukkan oleh Tuhan Yang Maha Berkuasa dan Maha Berilmu, yang tiada Tuhan selain Dia, tiada pemelihara selain Dia.

وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya ayat-ayat kauniyah (mukjizat) itu nyata dan menunjukkan kekuasaan Allah. Juga Rausl-rasul Alla, sekalipun hujjahnya sangat jitu, namun semua itu tidak memberi manfaat apa-apa kepada kaum yang tak bisa diharapkan  bakal beriman. Karena, mereka tidak mengerahkan pandangan mereka untuk mengambl pelajaran dari ayat- yaat tersebut dan tidak pula menggunakan ayat-ayat itu untuk mencari bukti atas keesaan Allah dan kekuasannya. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat tersebut. padahal, dengan memahami dan mengerti sunnatu ‘ilah pada makhluk maka jiwa seseorang akan menjadi bersih dan terlepas dari kotoran  dan dosa.[11]

D.    Q.S. Ali Imran 3: 190-191

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
1.      Penafsiran Sayyid Qutb dalam kitab tafsirnya fi zhilalil Qur’an
Dalam tafsirnya ini Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Ulul Albab adalah orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar. Mereka membuka pandangannya terhadap ayat-ayat Allah pada alam semesta, mereka tidak menutup matanya terhadap ayat ini. Mereka menghapad kepada Allah sambil duduk, berdiri dan berbaring. Maka terbukalah pandangan mereka, menjadi lembutlah pengetahuan mereka akan hakikat alam semesta yang dititpkan kepada mereka dan mengerti tujuan keberadaannya, alasan ditumbuhkannya, dan unsusr-unsur yang menegakkan fitrahnya dengan ilham yang menghubungkan antara hati manusia dan undang-undang alam ini.
Pemandangan berupa langit dan bumi dan berupa pergantian malam dan siang. Kalau perasaan kita dibebaskan dari kebekuan dan kejumudan, niscaya akan tergeraklah hati kita, akan berkembang perasaan kita, dan akan kita rasaakan bahwa dibalik kerapian dan keteraturannya pasti ada tangan yang mengaturnya, dibelakang pengaturnnya pasti ada akan yang merencanakannya, dan dibalik keteraturannya pasti ada undang-undang yang baku yang tidak akan pernah terganti. Semua itu tidak mungkin terjadi sera kebetulan, dan tidak mungkin terjadi secara batil.[12]


E.     Kesimpulan
Allah telah banyak memberi kita kenikamatan yang tidak bisa dihitung jumlahnya dari kita belum di dunia sampai lahir di dunia dan menggal semua atas kemurahan yang Allah beri. Termasuk ilmu, ilmu merupakan pusat dari segala kebahagiaan manusia yang terletak pada akal manusia yang fungsinya untuk membedakan anatar  baik dan buruk suatu yang akan dilakukan oleh manuia.
Allah sangat menjunjung tinggi ornag yang berilmu atau berakal hal ini disebutkan dalam surah  ali Imran. Kemudia Allah secara langsung menyuruh hambanya untuk menguak apa-apa yang dibumi dan di langit yang dijelaskan pada surah Yunus.
Jadi jelas di sini bahwa Allah sangat menagnjurkan umatnya untuk berilmu. Dan untuk mendapatkan ilmu itu ada dua macam yakni Ilmu laduni dan ilmu atas jerih payah kita mencarinya.
Allah menyuruh kita untuk mencari ilmu itu, Bahkan ayat pertama yang turunpun Allah sudah menyuruh hambanya untuk embaca, memabca, dan membaca.









[1] M. Quraisish Shihab, Tafsir al-Qur’an Tematik, hlm 571.
[2] Muhammad Fuad Abdul Baqi, “Mu’jam al-Mufahrash al-Lafdzi al-Qur’an al-Karim”, hlm 469-481.
[3] M. Quraisish Shihab, Tafsir al-Qur’an Tematik, 572.
[4]               Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 344-346.
[5]               Indra Laksana, Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”, (syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm 597.
[6]               Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 344-349.
[7]               Indra Laksana, Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”, (syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm 267.
[8] Tafsir fi Zilalil Qur’an VII, surah al-Hijr-al-Nahl PDF, hlm 200.
[9]               Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 30, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 211.
[10] Indra Laksana, Muchaeroni, dkk, “al-Qur’an dan Terjemah dengan Kajian Ushul Fiqh”, (syaamil Quran: Bandung, 2011), hlm 207.
[11] Ahmad Mustafa al-Maragi, “Tafsir al-Maragi”, jld 11, trjm: Bahrun Abubakar, (Toha Putra: Semarang, 1993), hlm 305.
[12] Tafsir fi Zhilalil-Qur’an II PDF, Juz IV: Bagian akhir surah Ali Imran dan awal surah an-Nisa, hal 244-247